BLOGGER TEMPLATES AND TWITTER BACKGROUNDS
Tampilkan postingan dengan label filsafat tasawuf. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label filsafat tasawuf. Tampilkan semua postingan

Senin, 14 Juni 2010

Dinamika Jiwa


By : Afandi ft Faricha


BAB I

PENDAHULUAN

Latar Belakang
Al-Quran al-karim mempunyai pengaruh yang besar bagi para sufi dalam analisanya tentang jiwa manusia. Para sufi menjadikan al-Quran sebagai pedoman untuk mengetahui tentang jiwa. Didalam al-Quran terdapat kata an-nafs yang mempunyai beberapa makna diantarnya adalah, ’Manusia sebagai mahkluk hidup’, ‘hakikat sesuatu’, dan bisa bermakna ‘dzat ilahiyah’.
Dalam al-Quran kata an-nafs yang mengandung arti manusia terdapat pada surat al-Maidah ayat 32
Artinya:’’barang siapa membunuh orang seseorang, dimana (orang tersebut) tidak membunuh orang lain atau tidak berbuat kerusakan dimuka bumi, maka ia seakan-akan telah membunuh manusia seluruhnya’’. Sedangkan an-nafs yang berarti dzat ilahiyah terdapat dalam surat Thaha ayat 41 Artinya: ‘’dan aku (Allah) telah memilihmu untuk diri-ku’’. Kata an-nafs dapat juga berarti satu asal keturunan manusia, seperti yang dicantumkan dalam surat an-Nisa ayat 1
Artinya: ‘’hai sekalian manusia, bertakwalah kepada tuhan-muyang telah menciptakan kamu dari diri yang satu, dan daripadanya Allah menciptakan isterinya, dan daripada keduanya Allah memperkembangbiakan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan mempergunakan nama-naya kamu saling meminta satu sama lain, dan peliharalah hubungan silahturahim. Sesungguhnya Allah telah menjaga dan mengawasi mu’’
Dalam kaitannya dengan berbagi arti jiwa yang telah dipaparkan diatas, Rasullah s.aw bersabda yang artinya: ‘’sesuatu yang paling aku takuti adalah mengikuti hawa nafsu, panjang angan. Adapun mengikuti hawa nafsu yang dimaksud disini adalah akan menutupi kebenaran (al-haq), sedangkan panjang angan ynag dimaksud adalah apabila seseorang memeliki panjang angan maka ia cenderung untuk melupakan akhirat’’. (HR. Ibnu ‘Adi dari Jbir dengan dhai’f)
Menurut pandangan kaum sufi menentang hawa nafsu merupakan suatu induk ibadah. Beberapa tokoh ketika ditanya mengenai ‘Islam’, maka mereka menjawab: bahwa yang dinamakna dengan Islam adalah menyembelih jiwa dengan pedang penetang.
Seperti yang telah dipaparkan diatas bahwa al-Quran sebagai pedoman para sufi dalam menganalisa tentang jiwa manusia. Dengan demikian, terdapat perbedaan antara para filosof dan para sufi dalam studi tentang jiwa. Para filosof dalam studi tentang jiwa hanya sebatas analisa akal dan logika, sedangkan para sufi dalam studi tentang jiwa nenambahkan akal murni tersebut dengan agama. Maka, apabila para filosof mengatakan bahwa distributor didalam jiwa mausia adalah akal, maka para sufi mengatakan bahwa distributor di dalam jiwa manusia adalah akal dan al wijdan. Atas dasar inilah para sufi dalam analisanya mengenai jiwa lebih menekankan kepada persoalan dan perilaku.

BAB II
PEMBAHASAN

Definisi Jiwa Menurut Para Sufi
Beberapa sufi mengemukakan pendapatnya mengenai pengertian jiwa manusia. Al-Hakim At-Tirmidzi, salah satu sufi terkenal pada abad ke III H, memberikan pengertian tentang jiwa manusia sebagai berikut: ‘’Jiwa merupakan bumi syahwat, cenderung kepada syahwat setelah melakukan syahwat, dan harapan setelah melakukan harapan. Jiwa tidak pernah tenang dan tak pernah diam, perbuatan-perbuatannya selalu berbeda, dimana perbuatan yang satu dengan yang lain tidak sama, terkadang jiwa berupa ‘ubudiyah dan terkadang berupa rububiyah, dan pada saat yang lain jiwa berlagak menyerah, dan pada suatu saat bersifat ingin memiliki. Dan terkadang jiwa juga bersifat lemah , dan terkadang disaat yang lain jiwa seakan memiliki kekuatan. Akan tetapi apabila jiwa dilatih, niscaya pasti akan bisa diarahkan.
Abu Yazid Al-Busthami mengatakan ‘’seseorang tidak akan mengenal jiwanya apabila dirinya ditemani oleh syahwat’’. Al-Kharraz mengatakan ‘’jiwa itu bagaikan air tergenang, suci dan bersih. Apabila air itu digerakan maka akan tampak kotoran yang berada dibagian dasarnya. Sama halnya dengan jiwa, ia akan tampak apabila diuji, apakah jiwa itu sabar atau menentang? Barang siapa tidak mengenal jiwanya, bagaimana ia mengenal Rabbnya?
Al Junaidi berkata ‘’sesungguhnya apabila jiwa meminta sesuatu kepadamu,maka ia akan memaksamu dan menuntut sampai kapan pun, sehingga ia berhasil. Kecuali jika jiwa tetap berada didalam Al Mujahadah sampai jiwa itu terbiasa dengan kejujuran dan Al Mujahadah.
Sifat Dan Karakter Jiwa Menurut Sufi
Menurut Al-Hujuwairi, kaum sufi sepakat bahwa jiwa merupakan sumber kejahatan dan sarang dari keburukan. Namun walaupun demikian masih ada sekelompok sufi yang berpendapat bahwa jiwa itu merupakan substansi yang independen, dimana pada suatu ketika berlagak seperti ruh dan pada saat yang lain berlagak sebagai substansi yang memberi kehidupan. Akan tetapi mayoritas sufi mengatakan bahwa jiwa merupakan sumber dan penyebab timbulnya akhlak yang tercela serta prilaku-prilaku yang hina atau perbuatan-perbuatan maksiat dan perbuatan tercela.
Perilaku maksiat menurut mereka dapat dihilangkan dengan banyak melakukan latihan (ar-riyadhah) dengan jalan bertaubat. Maksiat merupakan indikasi akhlak lahiriyah yang tercela. Sedangkan sifat-sifat diatas merupakan indikasi batiniah dari prilaku jiwa yang rendah. Segala yang tersirat didalam batin manusia akan timbul kepermukaan seperti prilaku batin yang tercela akan keluar dalam bentuk prilaku lahiriah yang tidak terpuji. Untuk itu upaya agar membersihkan prilaku lahiriah harus diawali dengan membersihkan sifat-sifat batin yang tercela.
Menurut kaum sufi jiwa menjadi sumber keangkuhan dan kesombongan. Dalam hal ini Al-Muhasibi seorang sufi besar memberikan peringatan kepada kita akan bahaya tipu daya jiwa dan cara yang dipergunakan oleh jiwa.
Berasal dari bagian-bagian al-Qur’an yang mengacu pada jiwa kaitannya dengan sifat-sifat yang berbeda: jahat, menyalahkan dan berdamai dengan tuhan. Jika orang ingin mempelajari seluruh acuan pada jiwa dalam al-qur’an dan hadis dia pasti akan sampai pada kesimpulan bahwa jiwa itu sendiri tidak mempunyai sifat-sifat khusus. Sebaliknya jiwa dari orang-orang yang berbeda mempunyai sifat-sifat yang berbeda dan jiwa-jiwa ini tidak berbeda dari realitas diri mereka sendiri. Teks-teks sufi sering kali menggambarkan jiwa ini sebagai dimensi batin dan realitas manusia yang memiliki sejumlah besar kemungkinan yang kebanyakan negatif.
Mengingat kenyataan bahwa kebanyakan orang sebagaimana sering kali dikatakan ghazali mengikuti kecendrungan-kecendrungan negatif dari jiwa, dan tidak mengherankan bahwa para sufi sering menggunakan istilah jiwa tanpa batas untuk mengacu pada yang menguasai kejahatan sejak masa-masa paling awal kita mendapati definisi-definisi tentang jiwa yang terutama memusatkan perhatian pada ciri-ciri watak yang tercela yang dapat dimilikinya dan menekankan kebalikannya pada sifat-sifat ruh, jika ruh itu pandai dan baik maka jiwa bodoh dan jahat.

Dinamika Jiwa
Salah satu pemikiran sufi adalah memetakan berbagai tahap atau kedudukan perkembangan rohani yang dicapai di jalan tuhan. Pada awalnya diri atau jiwa individual mempunyai sedikit kesamaan dengan ruh yang merupakan nafas tuhan.
Seorang manusia memiliki berbagai kecendrungan atau dimensi batiniah yang diwakili oleh jiwa, ruh, dan akal, tanpa dimensi-dimensi ini tidak mungkin ada masalah “perjuangan melawan diri sendiri” satu cara untuk mendapatkan gambaran tentang hubungan diantara dimensi-dimensi ini dengan melihat kesadaran manusia yang ditempatkan pada satu poros vertikal yang menghubungkan dimensi realitas yang paling rendah (dunia) yang dapat dilihat dengan dimensi yang paling tinggi, tuhan yang tidak dapat dibandingkan.
Inilah gambaran statis dimana langit dan bumi saling berhubungan secara selaras pada setiap tingkat. Tuhan adalah langit, ruh adalah bumi, ruh adalah langit badan adalah bumi.ruh adalah langit, badan adalah bumi. Tetapi gambaran tentang individu manusia sebagai keselarasan mikrokosmik ini bersifat normatif. Ini menggambarkan hubungan ideal antara manusia dan tuhan, dengan mempertimbangkan semua tingkat perantaraan dari keselarasan dan pengalaman, atau semua sifat yang berbeda yang harus diaktualisaikan dengan cara-cara tertentu. Gambaran statis dan normatif dari mikro kosmos memberikan suatu model yang memungkinkan untuk membedakan antara bagaimana adanya dan bagaimana seharusnya.
Dari suatu sudut pandang tertentu segala sesuatu berada dalam tatanan sempurna meskipun ia berada di luar keseimbangan. Tuhan telah mengeluarkan perintah “jadilah” dan segala sesuatu muncul di tempat-tempat mereka yang semestinya. Tradisi menyebut perintah khusus ini, perintah kemunculan melalui perintah jadilah tuhan memunculkan segala sesuatu. Inilah nafas yang maha pengasih melalui mana tuhan mengucapkan setiap firmannya yang mungkin.
Melalui perintah ini tuhan mengatakan pada kita bahwa semua jalan tidak menuntun pada kebahagiaan dan bahwa setiap situasi tidak selalu memberi kondisi–kondisi optimum dari sudut pandang kita. Langit dan bumi mikrokosmos tidak dengan sendirinya seimbang, meskipun langit dan bumi mikrokosmos mengikuti tao. Untuk menempatkan langit dan bumi kita kembali pada keseimbangan, kita sebagai manusia sekaligus pelayan dan wakil tuhan harus mengubah pandangan dan kebiasaan kita.
Jika tidak ada ada kesengsaraan dan segala sesuatu itu sama-sama membahagiakan, kita tidak dapat membicarakan kebahagiaan. Kita juga bisa mengatakan bahwa segala sesuatu itu sama-sama sengsara. Pengalaman mengenai kebahagiaan tergantung pada adanya kesedihan. Segala sesuatu menjadi jelas melalui kebalikannya sebagaiman dikatakan rumi “jika kamu menulis dikertas hitam tulisan itu tidak akan kelihatan sebab keduanya sama-sam berwarna hitam”
Seperti sifat-sifat lainnya kebahagiaan mempunyai tingkatan-tingkatan dan semua itu terus berkurang sehingga tanpa terasa menyatu dengan kebalikannya yaitu kesengsaraan sebuah perkataan sufi menangkap soal itu dengan bagusnya dan mengatakan “kebahagiaan orang yang saleh adalah kesengsaraan orang-orang suci.” Sesuatu yang merupakan kebahagiaan dimata orang awam mungkin menjadi kendala dan kesedihan bagi orang yang berpengetahuan .
Perintah pemunculan memunculkan segala sesuatu, termasuk surga dan neraka, ia mengikuti hakikat tuhan sebagai realitas yang memahami seluruh sifat ontologis. Tuhan mencakup seluruh hubungan yang mungkin dengan mahkluk-mahklunya: kemustahilan untuk diperbandingkan dan kesamaan, kemurkaan dan belas kasih, kekerasan dan kelembutan, balas dendam dan ampunan, tangan kanan dan tangan kiri. Sifat-sifat ini harus ada sebab mereka adalah milik dari hakikat eksistensi itu sendiri. Sifat-sifat itu berakar dalam zat yang nyata dan segala sesuatu sebagaimana yang dikatakan pepatah arab, kembali pada akar dari mana dia tumbuh. Al-qur’an berkali-kali mengingatkan kita bahwa segala sesuatu kembali kepada Allah.
Di satu pihak jiwa-jiwa manusia ditempatkan pada poros vertikal yang menghubungkan mereka dengan yang nyata pada saat yang ditentukan. Di lain pihak mereka mengalami perubahan hubungan pada poros kedua yang horisontal yaitu poros sementara. Jika kita melihat pada setiap mikrokosmos dalam eksistensinya dari hari kehari kita tidak menemukan sesuatu apapun yang statis menyangkut hubungan diantara sifat-sifatnya yang tidak terlihat. Mereka berubah dari waktu ke waktu, perubahan-perubahan yang sangat besar ini dalam jangka panjang dapat di nilai dengan cara melacak lintasan jalan dari kelahiran hingga kematian.
Al-Qur’an sering kali mengingatkan tahap-tahap kehidupan manusia yang dimulai dari rahim, semua tahap awal berkaitan langsung dengan perintah pemunculan tuhan, ketika perkembangan manusia mencapai tahap dimana sudah sepantasnya membicarakan tentang tanggung jawab, perintah petunjuk mulai berperan. Perintah ini mempunyai hubungan dengan segala sesuatu yang menjadikan manusia benar-benar manusia.
Perintah petunjuk menempatkan hubungan yang diinginkan antara langit dan bumi, ruh dan jiwa, jiwa dan badan. Tujuannya adalah mengembalikan keselarasan diantara sifat-sifat yang ada di dalam diri dan akibatnya antara mikrokosmos dan makrokosmos. Kemungkinan untuk mengacaukan keseimbangan antara langit dan bumi kembali pada kebebasan manusia karena manusia dibuat dalam citra tuhan sampai tahap tertentu mereka juga memiliki pilihan bebas sampai tahap itu mereka dapat menolak perintah petunjuk dan akan diminta pertanggung jawaban atas pilihan mereka.
Ketika mereka benar-benar menolak peranan mereka sebagai pelayan dari yang nyata, mereka mengacaukan hubungan kosmik yang selayaknya dengan jalan merebut hak-hak sebagai wakil untuk diri mereka sendiri, bukannya berserah diri pada kehendak tuhan mereka menolak petunjuk ilahi dan berusaha mengontrol nasib mereka sendiri. Di sini mereka tersesat sebab mereka tidak akan pernah dapat merebut kontrol dari yang nyata.
Keselarasan antara langit dan bumi, ruh dan jiwa, tuhan dan kosmos, dibangun ketika orang-orang menyeimbangkan dalam diri mereka sendiri kedua tangan tuhan, atau dua dimensi hakikat mereka sendiri. Seperti tuhan yang dari mereka citrakan, kedua dimensi dasar mereka adalah yang dan ying, aktifitas reseptivitas keagungan dan keindahan. Untuk menegakkan kembali hierarki normatif, sikap reseptif mereka harus terbuka terhadap petunjuk ilahi dan aktifitas mereka harus diarahkan melawan kesadaran terbatas mereka sendiri. Sifat pertama dikenal sebagai penyerahan dan penghambaan dan sifat kedua dikenal sebagai perjuangan. Inilah perang suci yang lebih besar ketika nabi ditanya apakah yang lebih besar dari pada perjuangan melawan orang-orang kafir? nabi menjawab ialah perjuangan melawan jiwa sendiri.

BAB III
KESIMPULAN

Jiwa merupakan bumi syahwat, cenderung kepada syahwat setelah melakukan syahwat, dan harapan setelah melakukan harapan. Jiwa tidak pernah tenang dan tak pernah diam, perbuatan-perbuatannya selalu berbeda, dimana perbuatan yang satu dengan yang lain tidak sama, terkadang jiwa berupa ‘ubudiyah dan terkadang berupa rububiyah, dan pada saat yang lain jiwa berlagak menyerah, dan pada suatu saat bersifat ingin memiliki.
Mayoritas sufi mengatakan bahwa jiwa merupakan sumber dan penyebab timbulnya akhlak yang tercela serta prilaku-prilaku yang hina atau perbuatan-perbuatan maksiat dan perbuatan tercela. jiwa menjadi sumber keangkuhan dan kesombongan.
Mengingat kenyataan bahwa kebanyakan orang sebagaimana sering kali dikatakan ghazali mengikuti kecendrungan-kecendrungan negatif dari jiwa, dan tidak mengherankan bahwa para sufi sering menggunakan istilah jiwa tanpa batas untuk mengacu pada yang menguasai kejahatan sejak masa-masa paling awal kita mendapati definisi-definisi tentang jiwa yang terutama memusatkan perhatian pada ciri-ciri watak yang tercela yang dapat dimilikinya dan menekankan kebalikannya pada sifat-sifat ruh, jika ruh itu pandai dan baik maka jiwa bodoh dan jahat.
Seorang manusia memiliki berbagai kecendrungan atau dimensi batiniah yang diwakili oleh jiwa, ruh, dan akal, tanpa dimensi-dimensi ini tidak mungkin ada masalah perjuangan melawan diri sendiri satu cara untuk mendapatkan gambaran tentang hubungan diantara dimensi-dimensi ini dengan melihat kesadaran manusia yang ditempatkan pada satu poros vertikal yang menghubungkan dimensi realitas yang paling rendah (dunia) yang dapat dilihat dengan dimensi yang paling tinggi, tuhan yang tidak dapat dibandingkan.
Perintah petunjuk menempatkan hubungan yang diinginkan antara langit dan bumi, ruh dan jiwa, jiwa dan badan. Tujuannya adalah mengembalikan keselarasan diantara sifat-sifat yang ada di dalam diri dan akibatnya antara mikrokosmos dan makrokosmos. Kemungkinan untuk mengacaukan keseimbangan antara langit dan bumi kembali pada kebebasan manusia karena manusia dibuat dalam citra tuhan sampai tahap tertentu mereka juga memiliki pilihan bebas sampai tahap itu mereka dapat menolak perintah petunjuk dan akan diminta pertanggung jawaban atas pilihan mereka.




DAFTAR PUSTAKA

Ar risalah al qusyairiyah, jilid 1.
Sachiku, Murata. The Tao Of Islam, Mizan, Bandung, 1997.
Amir An-Najar, Ilmu Jiwa Dalam Tasawuf, Jakarta, Pustaka Azzam, 2000.

Kejelekan Jiwa

by : Khoirotun ft Farid















BAB I

PENDAHULUAN

Salah satu pemikiran utama para sufi adalah memetakan berbagai tahap atau “kedudukan” (maqamat) perkembangan ruhani yang dicapai di jalan tuhan. Pada awalnya diri atau jiwa individual mempunyai sedikit kesamaan dengan ruh yang merupakan nafas Tuhan. Ia berdiri pada suatu tingkat ketidaksempurnaan yang berasal dari kecendrungan alamiah pada manusia kepada “kelupaan” (ghaflah), yang secara mistis diwakili oleh sisi negatif dari kejatuhan Adam. Wahyu muncul sebagai suatu pesan dari tuhan yang “mengingatkan” jiwa bahwa cahayanya sendiri menjadi saksi bagi suatu janji yang d buat Allah sebelum memasuki dunia ini. Begitu seseorang menerima pesan itu, dia masuk ke dalam sebuah jalan panjang perjuangan melawan kecendrungan-kecendrungan negative jiwa.
Ketika teks-teks sufi membayangkan jiwa sebagai sesuatu yang harus diubah, mereka secara khas menggambarkan suatu perkembangan melalui tiga tahap dengan mengacu terminoloi Al-Quran. Tahap yang paling rendah adalah “jiwa yang menguasai kejahatan” (al-nafs al-ammarah bi’l-su’), tahap selanjutnya, “jiwa yang menyalahkan” (al-nafs al-lawwamah), dan tahap terakhir, “jiwa yang damai” (al-nafs al-muthma’innah). Jelas demikianlah halnya dalam tiga tingkat jiwa itu: menguasaui kejahatan, menyalahkan, dan damai. Tujuan dari penjelasan-penjelasan itu adalah memungkinkan orang untuk dapat mengatasi kekuatan-kekuatan di dalam diri mereka sendiri dalam konteks perintah.

BAB II
PEMBAHASAN


A. Kejelekan Jiwa
Ketiga tingkat jiwa dalam beberapa teks diperluas hingga empat atau lima berasal dari bagian-bagian Al-Quran yang mengacu pada jiwa dalam kaitannya sifat-sifat yang berbeda: jahat, menyalahkan, dan berdamai dengan Tuhan. Jika orang ingin mempelajari seluruh acuan pada jiwa dalam Al-Quran dan Hadis, dia pasti akan sampai pada kesimpulan bahwa jiwa itu sendiri tidak mempunyai sifat-sifat khusus. Sebaliknya, jiwa dari orang-orang yang berbeda mempunyai sifat-sifat yang berbeda, dan jiwa-jiwa ini tidak berbeda dari realitas diri mereka sendiri.
Dalam konteks ini kaum sufi membagi perilaku maksiat jiwa menjadi dua bagian. Yang pertama, berbentuk perilaku maksiat, dan yang ke dua berbentuk perilaku tercela; seperti sombong, dengki, kikir, marah, hasud dan segala bentuk perilaku yang oleh akal maupun syara’ dipandang hina dan tercela.
1. Riya’ (sombong)
Penyakit yang sangat berbahaya bagi jiwa manusia yang sangat lemah adalah keinginan untuk melambung tinggi dengan mempergunakan madia penipuan dan kedustaan. Seorang yang mempunyai sifat Riya’ adalah orang yang menampilkan sesuatu yang bertentangan dengan apa yang terdapat di dalam batinya, dan itu merupakan bentuk kesyirikan. Seperti yang disabdakan oleh Rasulullah saw: “Sesungguhnya tingkatan Riya’ yang paling rendah termasuk syirik”. (HR Bukhari dan Muslim.
2. Al-Ghurur (Tipu Daya)
Al- Ghurur adalah rasa tenangnya jiwa terhadap perilaku yang sesuai dengan hawa nafsu, dan biasanya sifat ini cenderung berupa penipuan yang berasal dari setan. At- Tustari berpendapat bahwa Al Ghurur ini adalah setan, seperti yang dikatakan: “termasuk perilaku-perilaku setan adalah andai-andai dan Al Ghurur.” Dan lain sebagainya.
Perilaku maksiat menurut mereka dapat dihilangkan dengan banyak melakukan latihan (Ar-Riyadhah), dengan jalan bertaubat. Maksiat merupakan indikasai akhlak lahiriyah yang tercela. Sedangkan sifat-sifat di atas merupakan indikasi batiniah dari perilku jiwa yang rendah. Segala apa yang tersirat di dalam batin manusia akan timbul ke permukaan. Seperti halnya perilaku batin yang tercela akan keluar dalam bentuk perilaku lahiriah yang tidak terpiji. Untuk itu, upaya agar membersihkan perilaku lahiriah harus diawali dengan membersihkan sifat-sifat batin yang tercelah.
Sebagian dari kaum sufi ada yang membagi jiwa menjadi empat bagian, yaitu:
1. Jiwa yang memiliki sifat Ar-Rububiyah, seperti keagungan, pemaksaan, senang terhadap pujian, kemuliaan, kekayaan dan sebagainya.
2. Jiwa yang memiliki muatan setan; seperti penipu, selalu mencari kesalahan orang lain, hasud, burunk sangka dan sebagainya.
3. Jiwa yang memiliki muatan sifat binatang; seperti suka makan, minum, suka kawin, dan sebagainya.
4. Jiwa yang memiliki muatan sifat ‘ubudiyah; seperti rasa takut, tawadhu’, rendah hati dan sebagainya.
Teks-teks sufi seringkali menggambarkan jiwa ini sebagai dimensi batin dari realitas manusia yang memiliki sejumlah besar kemungkinan, yang kebanyakan negatif. Abu Thalib Al-Makki, memberikan suatu contoh awal tentang pendekatan ini: “jiwa itu dirundung empat sifat yang berbeda. Yang pertama adalah makna dari sifat-sifat kebesaran (rububiyah). Ia juga dirundung ciri-ciri watak dari syetan. Dan ia juga dirundung perangai hewan. Dan dengan semua ini, ia juga dianngap bertanggung jawab atas sifat-sifat para hamba.
Mengingat kenyataan bahwa kebanyakan orang, sebagaimana sering kali dikatakan Ghazali. Mengikuti kecendrungan-kecendrungan negatif dari jiwa, tidak mengherankan bahwa para sufi sering menggunakan istilah jiwa tanpa batas untuk mengacu pada jiwa yang menguasai kejahatan. Jadi sejak masa-masa paling awal kita mendapat definisi-definisi tentang jiwa yang terutama memusatkan perhatian pada ciri-ciri watak yang tercela yang dapat dimilikinya dan menekankan kebalikannya pada sifat-sifat ruh. Jika ruh itu pandai dan baik, maka jiwa itu bodoh dan jahat.
Abu ‘abd Al-Rahman Al-Sulami, ia membuat sebuah risalah pendek mengenai “cacat-cacat (‘uyub) jiwa dan penyembuhannya”. Meskipun dia memulai dengan suatu penjelasan ringkas tentang tiga tingkat dasar jiwa yakni: menguasai kejahatan, menyalahkan, dan damai. Dia membatasi dirinya hanya pada pembahasan tentang jiwa yang menguasai kejahatan. Dia menggambarkan tujuh puluh cirri-ciri watak negatif yang tertanam dalam jiwa dan menjelasakan bagaimana cara mengatasinya.
Dalam Masyrab Al-Arwah, Ruzbihan membahas “pengetahuan sejati dari jiwa” sebagai berikut: jiwa adalah alat kekerasan Tuhan. Darinya timbul segala kejahatan dan kerusakan. Tuhan berfirman:
dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena Sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyanyang. (QS. 12:53)

Dalam esensinya jiwa itu terdiri atas sifat-sifat kekerasan dan siap untuk menerima ilham kejahatan. Tuhan berfirman:

dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya), Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya. (QS. 91: 7-8)

Dia yang meneliti pakaian dari kekerasan abadi yang dipakai oleh jiwa akan mengetahui yang nyata dalam sifat yang tak terkalahkan, tak tertembus,Agung, dan besar. Nabi berkata:“Barang siapa mengenal jiwanya sendiri pasti mengenal Tuhanya”. Salah seorang syeikh berkata, “jiwa tidak menyatakan kebenaran dan hati tidak berdusta”. Ahli makrifat berkata, “jiwa adalah wahyu dan pemikiran tersembunyi tentang kekerasan yang datang kepada orang dari cakrawala penipuan dan abadi.”

B. Ciri-ciri watak yang berlawanan
Akhlah adalah bentuk jamak dari khuluk dan secara harfiah berarti “cirri-ciri watak”. Ini bisa bail atau buruk, terpuji atau tercela. Yang baik dan yang buruk secara umum dianggap sebagai kebalikan, sebagaimana yang kita lihat dalam ulasan-ulasan Imam Ja’far Al-Shadiq mengenai prajurit-prajurit akal dan kebodohan yang berlawanan.
Ketika ruh dipandang sebagai yang bercahaya dan jiwa sebagai yang gelap, maka ciri-ciri watak yang terpuji dimiliki oleh sisi yang bercahaya, dan ciri-ciri watak yang tercela dimiliki oleh sisi gelap. Jiwa yang menguasai kejahatan, seorang teman setan mendorong orang pada kekikiran. Ia mengikuti kegelapan dan bukannya cahaya. Ia mengemukakan dengan tipu dayanya yang telah melekat pada dirinya bahwa kedermawanan akan menuntun pada kemiskinan dan harus dihindarkan.
Ghazali memandang diri manusia sebagai terdiri dari kecendrungan-kecendrungan atau sifat-sifat berlainan yang harus diseimbangkan (I’tidal) sebelum manusia dapat mencapai kesempurnaan yang merupakan tujuan penciptaan mereka. Ghazali mengacu pada dua kecendrungan utama manusia sebagai yang bersifat “ketuhanan” (rabbani) dan “kesetanan” (syaythani). Yang pertama naik dan yang kedua turun, yang pertama adalah akal, yang menarik kearah Tuhan. Inilah cahaya batiniyah yang mengakui ajaran para Nabi sebagai yang hakiki. Kecendrungan syetan bergerak meninggalkan Tuhan dan berusaha untuk menyibukkan jiwa dengan dunia luar. Ia menjelmakan sifat ilahi, penyesatan, dan menarik kearah kesengsaraan. Selama kecendrungan setan berkuasa, individu akan tetap berada pada tahap jiwa yang menguasaio kejahatan. Inilah keadaan kebanyakan orang, yang dikuasai oleh kelalaian. Jika kecendrungan naik itu meningklat, maka jiwa pada akhirnya mencapai tahap kedamaian bersama Tuhan.
Sebagaimana dikemukakan sebelumnya, jiwa mempunyai dua kecendrungan lain yang pada dasarnya bersifat menyebar. Yang satu adalah nafsu, kekuatan jiwa yang berusaha untuk mencapai segala sesuatu yang diperlukan untuk bertahan. Yang satunya lagi adalah kemarahan. Kekuatan jiwa untuk menangkis segala sesuatu yang merugikan dalam usaha untuk bertahan. Dalam menjelaskan soal-soal ini dengan suatu analogi, Ghazali mewujudkan keempat kecendrungan itu sebagai seorang yang bijak (akal), setan, seekor babi (nafsu), dan seekor anjing (kemarahan). Pada awalnya, dia menggambarkan babi dan anjing dalam pengertian yang sama sekali negatif.
Teks-teks sufi sering menggambarkan kecendrungan-kecendrungan negatif jiwa dalam pengertian cirri-ciri watak hewan. Sam’ani sangat khas dalam hal ini:
“ Wahai darwisy, manusia di beri tempat suatu ancaman: dalam satu saat, dia mencapai tingkatan Jibril dan Mikail. Namun, dia melampaui mereka. Dan melalui satu pemikiran dia menjadi seekor anjing atau seekor babi. Jika dia melangkah maju sesuai dengan pengetahuan dan akal, maka kita akan mendapati seorang malaikat yang mulia:

Maka tatkala wanita itu (Zulaikha) mendengar cercaan mereka, diundangnyalah wanita-wanita itu dan disediakannya bagi mereka tempat duduk, dan diberikannya kepada masing-masing mereka sebuah pisau (untuk memotong jamuan), kemudian Dia berkata (kepada Yusuf): "Keluarlah (nampakkanlah dirimu) kepada mereka". Maka tatkala wanita-wanita itu melihatnya, mereka kagum kepada (keelokan rupa) nya, dan mereka melukai (jari) tangannya dan berkata: "Maha sempurna Allah, ini bukanlah manusia. Sesungguhnya ini tidak lain hanyalah Malaikat yang mulia." (QS. 12:31)

Jika dia mengikuti nafsunya dan menjadikan hatinya ambang pintu setan, maka kita akan mendapati seekor hewan buas yang tak berharga. Dia mungkin rakus seperti seekor babi, penjilat seperti seekor kucing, pendendam seperti seekor unta, pongah seperti macan kumbang, penuh rahasia seperti seekor rubah, keji seperti seekor anjing.

dan kalau Kami menghendaki, Sesungguhnya Kami tinggikan (derajat)nya dengan ayat-ayat itu, tetapi Dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah, Maka perumpamaannya seperti anjing jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkannya Dia mengulurkan lidahnya (juga). demikian Itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat kami. Maka Ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berfikir. (QS. 7:176)


KESIMPULAN

• Bahwa para sufi sering menggunakan istilah jiwa tanpa batas untuk mengacu pada jiwa yang menguasai kejahatan.
• Kaum sufi membagi perilaku maksiat jiwa menjadi dua bagian. Yang pertama, berbentuk perilaku maksiat, dan yang ke dua berbentuk perilaku tercela; seperti sombong, dengki, kikir, marah, hasud dan segala bentuk perilaku yang oleh akal maupun syara’ dipandang hina dan tercela.
• Teks-teks sufi sering menggambarkan kecendrungan-kecendrungan negatif jiwa dalam pengertian cirri-ciri watak hewan. Seperti; Dia mungkin rakus seperti seekor babi, penjilat seperti seekor kucing, pendendam seperti seekor unta, pongah seperti macan kumbang, penuh rahasia seperti seekor rubah, keji seperti seekor anjing.

DAFTAR PUSTAKA

Annemarie Schimmel, The Tao Of Islam, Bandung, Mizan, 1996.
Abdullah bin Husain bin Thahir, Mencapai Jiwa Yang Tentram, Bndung, Pustaka Hidayah, 2002.
Muhammad Mahdi bin Abi Dzar Al-Naraqi, Penghimpum Kebahagiaan, Bndung, Mizan, 1993.
DR. Amiran Najar, Ilmu Jiwa Dalam Tasawuf, Pustaka Azzam, 2004.

jiwa dan cahaya ilahiyah (adam, hawa dan iblis)

by : saada_abadi ft Hodri


BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Dalam kondisi normal, jiwa siap menerima cahaya yang datang dari ruh, melalui penerimaan ini, jiwa menjadi bercahaya dan berubah menjadi suatu zat ruhani dan saat itu jiwa naik dari dunia kegelapan menuju dunia cahaya, kecenderungan pengertian istilah jiwa adalah kondisi saat ia turun kedalam dunia kegelapan dan bersifat bodoh dan jahat. Hal ini merupakan akibat dari ketidakmampuan jiwa untuk melihat cahaya, jadi sensor penerimaan yang ada pada dirinya sudah tidak berfungi atau tertutup oleh kerak kebodohan dan dia puas dengan batasan-batasannya sendiri, yang menghalang-halangi jiwa untuk memperoleh cahaya ilahiyah adalah setan.
Jiwa jika dikontraskan dengan ruh dia adalah merupakan dimensi yang paling jauh dari cahaya tuhan. Sementara ruh cukup dekat dengan tuhan sehingga dapat dianggap ruh mempunyai cahaya sendiri padahal itu hanya seolah-olah seperti ibarat ruh adalah bulan yang dapat menerima cahaya matahari dan dengan cahaya pantulannya itu dia dapat menerangi bumi, atau dengan kata lain karena pantulan cahaya ilahiyah itu ruh dapat menerangi jiwa. Jiwa sebenarnya mempunyai sisi positif tidak hanya mempunyai sisi negatif yang sering kita dengar. Selama ia jauh dari pusat kosmos yang bercahaya maka ia tetap gelap dan bodoh dan selama ia tidak menyadari kegelapannya sendiri dan tidak berusaha untuk mengatasinya ia tetap menjadi dimensi yang negative terhadap manusia.
Kemudian hubungan kisah mitos Adam dan Hawa dengan jiwa
Allah berfirman: "Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) di waktu aku menyuruhmu?" Menjawab iblis "Saya lebih baik daripadanya: Engkau ciptakan saya dari api sedang Dia Engkau ciptakan dari tanah" (Al-A’raaf : 12)
(dan Allah berfirman): "Hai Adam bertempat tinggallah kamu dan isterimu di surga serta makanlah olehmu berdua (buah-buahan) di mana saja yang kamu sukai, dan janganlah kamu berdua mendekati pohon ini, lalu menjadilah kamu berdua Termasuk orang-orang yang zalim."
Maka syaitan membisikkan pikiran jahat kepada keduanya untuk Menampakkan kepada keduanya apa yang tertutup dari mereka Yaitu auratnya dan syaitan berkata: "Tuhan kamu tidak melarangmu dan mendekati pohon ini, melainkan supaya kamu berdua tidak menjadi Malaikat atau tidak menjadi orang-orang yang kekal (dalam surga)". (Al-A’raaf : 19-20)
Sungguh sangat menarik jika ayat diatas diberi penjelasan mengenai psikologi dan filsafat tasawuf sehingga Adam itu disejajarkan dengan Hati, Hawa dengan Jiwa dan Iblis dengan Intuisi Indrawi. Dan ternyata ayat tersebut terdapat hubungan yang erat dengan proses jiwa mendapatkan cahaya ilahiyah. Oleh sebab itu dalam makalah ini akan dibahas hubungan ayat diatas dengan proses jiwa dalam mendapatkan cahaya ilahiyah.

B. Alasan Memilih Judul
Pemilihan masalah makalah ini karena adanya hubungan yang perlu dikaji antara jiwa dengan mitos Adam, Hawa dan Iblis.

C. Rumusan Masalah
Berdasarkan pada latar belakang permasalahan yang terdapat dalam bagian terdahulu maka dapatlah disusun beberapa rumusan masalah yaitu :
1. Apakah pengertian Jiwa ?
2. Mengapa Terjadi Mitos Adam, Hawa dan Iblis ?
3. Bagaimana Hubungan Mitos Adam, Hawa dan Iblis dengan Proses Jiwa dalam menerima Cahaya Ilahiyah ?

D. Tujuan Pembuatan Makalah
1. Tujuan Umum
Untuk memenuhi salah satu syarat dalam mengikuti ujian akhir semester empat
2. Tujuan Khusus
Untuk mengungkapkan dan menerangkan beberapa hal antara lain :
a. Mengetahui Pengertian pengertian Jiwa.
b. Mengetahui Penyebab Terjadi Mitos Adam, Hawa dan Iblis.
c. Mengetahui Pandangan para ahli tentang hubungan Mitos Adam, Hawa dan Iblis dengan Proses Jiwa dalam menerima Cahaya Ilahiyah.

E. Manfaat Pembuatan Makalah
a. Bagi Penulis
Menambah pengetahuan tentang hubungan Mitos Adam, Hawa dan Iblis dengan Proses Jiwa dalam menerima Cahaya Ilahiyah.
b. Bagi Pembaca
Dapat memberi gambaran bagaimana Proses Jiwa dalam memperoleh cahaya Ilahiyah dengan hubungannya terhadap Mitos Adam, Hawa dan Iblis.


BAB II
PEMBAHASAN

A. Jiwa dan Cahaya Ilahiyah

Jiwa nafs seringkali disamakan dengan ruh, dan jikalau ada yang membedakannya itu hanya karena tingkatan-tingkatannya saja, dan hal seperti itu menunjukkan bahwa suatu realitas tunggal dapat dilihat dari segi dimensi batin manusia, mereka memiliki berbagai sifat dan bagaimana sifat-sifat ini mewujudkan diri mereka dengan cara berbeda-beda. Dan sebagian ahli tasawuf mengatakan bahwa jiwa adalah ruh setelah bersatu dengan jasad.
Tidak ada suatu definisi pasti yang menjelaskan tentang jiwa dan ruh ini tetapi untuk lebih memahaminya kita dapat membuat simbol-simbol beserta perannya, jika ruh diciptakan dari cahaya yang terpisah dengan badaniah ia merupakan suatu realitas tunggal dan sederhana, dan kebalikannya badan adalah terbuat dari tanah liat yang gelap sehingga antara ruh dan badan tidak ada kaitannya sama sekali, sedangkan adanya kehidupan maka badan harus di cahayai oleh roh, maka jiwa memiliki sifat-sifat dari kedua belah pihak yang menjadi perantara antara keduanya. pada satu sisi jiwa bisa menerima cahaya ruh tetapi disatu sisi jiwa gelap dan sesat.
Jiwa sangat mempengaruhi kegiatan badaniah manusia, bagaimana ciri-ciri, watak, maupun perbuatan terpuji atau tercela tergantung pada keterbukaan jiwa terhadap yang diatasnya, dan kenaikannya menuju dunia ruh. Karena pada dasarnya kecenderungan pada arah tinggi dan terhadap asal-usul yang bercahaya merupakan watak bawaan dari fitrah semua indra yang berkaitan dengan dunia Dominion.
Jiwa jika dikontraskan dengan ruh, maka ia merupakan dimensi dari realitas manusia yang paling jauh dari cahaya Tuhan, sementara ruh itu cukup dekat dengan cahaya, sehingga bisa dianggap memiliki cahayanya sendiri. Selama jiwa bisa menerima cahaya ruh, ia sepenuhnya positif. Namun selama ia jauh dari pusat kosmos yang bercahaya, ia gelap dan bodoh. Selama ia tidak menyadari kegelapannya sendiri dan tidak berusaha untuk mengatasinya, ia merupakan dimensi negatif dari orang itu. Dalam hal ini jiwa merupakan penghalang bagi kesempurnaan manusia dan dapat menuntun pada kesengsaraan. Jika dinilai secara negatif Jiwa dapat disebut dengan “jiwa yang menguasai kejahatan”.
Kasyani dalam mengulas al-Qu’ran secara esoterik, dia seringkali mengkontraskan ruh dan jiwa. Kadang-kadang ia memandang jiwa sebagai realitas yang baik dan positif, kadang-kadang sebagai realitas yang negatif, tergantung pada ayatnya. Wahyu muncul sebagai suatu pesan dari tuhan yang “mengingatkan” jiwa bahwa cahayanya sendiri menjadi saksi bagi suatu janji yang dibuat Allah sebelum memasuki dunia ini. Begitu seseorang menerima pesan itu, dia masuk ke dalam sebuah jalan panjang perjuangan melawan kecendrungan-kecendrungan negatif jiwa. upaya agar membersihkan perilaku lahiriah harus diawali dengan membersihkan sifat-sifat batin yang tercela.
Sebagaimana penjelasan dari makalah tema sebelumnya bahwa, Sebagian dari kaum sufi ada yang membagi jiwa menjadi empat bagian, yaitu: Jiwa yang memiliki sifat Ar-Rububiyah, Jiwa yang memiliki muatan setan, Jiwa yang memiliki muatan sifat binatang, dan Jiwa yang memiliki muatan sifat ‘ubudiyah. maka tingkatan jiwa seseorang dapat naik maupun turun dan itu tergantung pada banyak sedikitnya cahaya ilahiyah yang menyinarinya lewat ruh dan nasihat dari akal.
Dalam surat an-Nur ayat 35
Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. perumpamaan cahaya Allah, adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat(nya), yang minyaknya (saja) Hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang Dia kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha mengetahui segala sesuatu. (Q.S. An-Nur : 35)

B. Hubungan Jiwa dengan Mitos Adam, Hawa dan Iblis

Sebelum menciptakan adam Alloh memutuskan menempatkan khalifah di bumi, lalu dia menceritakan kepada malaikat dan mereka keberatan kemudian Alloh lengsung menjawab bahwa Dia mengetahui apa yang tidak mereka ketahui. Menurut Sama’ani dalam buku Tasawuf dimata kaum sufi, Adam adalah manusia pertama yang sifat-sifat fundamentalnya diwarisi oleh semua manusia. Dan adam ditemani oleh Hawa yang diciptakan dari tulang rusuknya. Kemudian mereka berdua ditempatkan didalam surga.kemudian karena rayuan syetan akhirnya mereka berdua diturunkan ke bumi. Didalam mitos ini peran hawa tidak seberapa pengaruh dan jika terdapat dosa dapat dikatakan hawa hanya ikut apa kata adam, dalam hal ini bukan karena wanita diremehkan tetapi membahas hal itu hanya akan menimbulkan diferensiasi peranan gender.
Tafsiran Sama’ani menjelaskan Adam diciptakan dengan memperhatikan dua kategori dasar dari nama-nama Alloh yang Mahabaik dan penyayang, dan ketika adam masih berada didalam surga ia belum seutunya merealisasikan makna semua nama Alloh yang Alloh ajarkan kepadanya, dia hanya mengenal nama keindahan dan kasih sayang dan untuk mengenal nama kekuasaan dan amarah maka itu dapat dipahami saat Adam diturunkan ke Bumi. Selain Sama’ani mitos ini juga ditafsirkan Kasyani.
Penafsiran Kasyani atas mitos Adam dan Hawa sangat menarik. Dia membahas mikrokosmik Setan, iblis, dan hubungannya dengan jiwa. Dia menyamakan iblis dengan indra dari jiwa yang dikenal sebagai wahm, atau disebut juga intuisi inderawi. Manusia memiliki indra ini, demikian pula hewan. Menurut penjelasan yang biasa diberikan dalam teks-teks mengenai psikologi, intuisi indrawi memberikan suatu kesadaran cepat, namun kadang-kadang keliru, tentang keadaan non-indrawi dari suatu hal indrawi. Baik indra maupun imajinasi tidak dapat menangkap keadaan ini, entah benda itu ada atau tidak. Misalnya, intuisi indrawi memperingatkan kita tentang kenyataan bahwa sifat-sifat seperti kebencian, kebenaran, ketamakan dan kebaikan mungkin ada dalam diri seseorang atau seekor hewan. Sebagaimana dikemukakan Ibnu Sina, indra ini ”merasakan niat-niat non-indrawi yang ada dalam objek-objek indra individu, seperti indra yang melihat bahwa srigala itu harus dihindari dan anak itu harus dicintai.” bahwa intuisi indrawi dapat menangkap keadaan-keadaan tertentu dari jiwa seseorang, seperti cinta atau kebencian, tetapi ia tidak dapat memahami makna universal belas kasih dan dendam yang berkaitan dengan bidang ilahiah. Bagaimanapun juga, intuisi indrawi merupakan indra perantara antara akal dan persepsi indra. Jiwa yang dikuasai oleh intuisi indrawi memiliki suatu kecemerlangan tertentu dalam hubungannya dengan benda-benda jasmaniah tetapi sifatnya mendua dan tercampur seperti halnya api. Karena indra itu juga dimiliki oleh hewan, ia jelas berada pada urutan dibawah perenungan atau pemikiran (fikr), apalagi akal.
Kasyani tidak menganggap kejahatan moralistis berasal dari iblis mikrokosmik. Karena Intuisi indrawi mempunyai batasan-batasan dan ia tidak dapat melampauinya. Intuisi indrawi memainkan peranan positif dan diperlukan pada tingkatannya sendiri. Tetapi seperti nafsu dan kemarahan, ia harus dijaga agar tetap ditempatnya. Jika seseorang mengikuti intuisi indrawi bukan akal, dan iblis bukan para nabi, maka dia menjadi bodoh dan sesat, lalu akan berakhir dalam kesengsaraan. Kearifan nabi yang hanya ditangkap melalui akal, dan itulah yang dapat menuntun seseorang keluar dari keterbatasan jiwa hewani. Maka jika seseorang mengikuti apa yang dituntun nabi maka selamatlah jiwanya dari segala keburukan, karena nabi mengajarkan bagaimana membebaskan jiwa kita dari sifat-sifat hewaniah yang menjadi kecenderungannya saat tidak memperoleh cahaya ilahiyah, jika manusia bebas dari sesuatu yang mempengaruhinya terhadap keburukan maka ia memahami secara benar.
Seperti Ghazali, Kasyani menggunakan istilah hati untuk mengacu pada esensi dari apa yang membuat seorang manusia menjadi manusia, atau apa yang disebut para filosof, jiwa rasional. Maka dalam ta’wilnya, Adam itu disejajarkan dengan hati, Hawa dengan jiwa, dan Iblis dengan intuisi indrawi. Dalam Al-Qur’an Tuhan yang mensejajarkan dengan nama-nama Adam.
dan Dia mengajarkan kepada Adam Nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada Para Malaikat lalu berfirman: "Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu mamang benar orang-orang yang benar!" (QS. Al-Baqoroh : 31)

dapat diartikan bahwa Alloh memasukkan kedalam hati manusia ciri-ciri dari benda-benda serta manfaat-manfaat dan bahaya-bahayanya
dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada Para Malaikat: "Sujudlah kamu kepada Adam," Maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia Termasuk golongan orang-orang yang kafir. (QS. Al-Baqoroh : 34)

Ketika Kami katakan kepada para malaikat,”bersujudlah didepan Adam” sujud mereka didepannya merupakan penyerahan diri mereka kepadanya, pengakuan mereka sebagai yang lebih rendah dihadapannya, dan ketundukan mereka kepadanya. Maka mereka bersujud kecuali Iblis. Iblis adalah intuisi indrawi. Intuisi indrawi tidak dimiliki oleh para malaikat yang murni bersifat keduniawian dan terhijab dari persepsi makna oleh persepsi bentuk, atau ia dengan sendirinya akan mematuhi perintah Tuhan secara suka rela. ia bukan salah satu malaikat langit yang intelektif, atau ia akan memahami kemuliaan Adam. Ia akan sesuai dengan akal Adam dan suka rela menyerah kepadanya akibat cinta dan karena mencari ridha Tuhan. Intuisi indrawi adalah Jin. Dengan kata lain, ia berkaitan dengan Kerajaan yang lebih rendah dan indra-indra duniawi. Intuisi indrawi tumbuh dan dibesarkan diantara para malaikat langit karena kemampuan memahami makna-makna khusus dan kenaikannya menuju cakrawala akal. Maka pada diri hewan-hewan yang bisu, intuisi indrawi menggantikan akal yang dimiliki oleh manusia.
Intuisi indrawi menolak saat diperintah sujud sebab ia tidak menyerah pada akal dan bertahan untuk tidak menerima kekuatan yang menguasainya. Ia mengaku besar karena ia mengira dirinya lebih unggul dibanding benda-benda yang diciptakan dari lempung dan malaikat-malaikat langit dan bumi, sebab ia tidak dapat memahami batas-batasnya sendiri, yaitu kenyataan bahwa ia memahami makna-makna khusus yang berkaitan dengan objek-objek indrawi. Ia melanggaar kedudukannya sendiri dengan menilai makna-makna yang jelas dan aturan-aturan universal. Dia termasuk kaum kafir, mereka yang selamanya terhijab dari cahaya-cahaya ruhani yang terang, apalagi cahaya Keesaan.
dan Kami berfirman: "Hai Adam, diamilah oleh kamu dan isterimu surga ini, dan makanlah makanan-makanannya yang banyak lagi baik dimana saja yang kamu sukai, dan janganlah kamu dekati pohon ini, yang menyebabkan kamu Termasuk orang-orang yang zalim. (QS. Al-Baqoroh : 35)

Kami berkata, “adam, tinggalah bersama istrimu di surga.” Istri hati itu adalah jiwa. Jiwa itu diibaratkan hawa’ (Hawa secara harfiah berarti “kecendrungan merah dan hitam”) sebab ia tidak terpisahkan dari badan yang gelap, dan huwwa adalah warna yang didominasi oleh hitam. dan hati itu disebut Adam (Adam, secara harfiah “terbubuhi warna hitam”) sebab ia terkait dengan badan melalui penjejakan (inthiba’ (yaitu dengan menjadi tercelup dalam perangai, thab’)), meskipun hati tidak dapat dipisahkan dari badan. Udma (dan akar yang sama dengan Adam) adalah warna coklat, atau warna yang cenderung pada hitam. Kalau bukan karena kelekatannya dengan badan, hati tidak akan disebut “terbubuhi warna hitam.”
Surga dimana mereka berdua diperintahkan untuk tinggal adalah langit dari Dunia Ruh, yaitu Padang Kesucian. Dan makanlah daripadanya apa yang kamu inginkan. Dapat diartikan Menyebarlah dan senangkanlah dirimu dalam menerima makna, ilmu, dan kearifan langit. itu semua adalah makanan bagi hati dan buah-buahan yang dimakan oleh ruh. Menyebarlah sampai batas manapun, hingga ke sembarang tingkat keadaan, dan kedudukan yang kamu kehendaki, sebab ia abadi, tidak terputus, tidak terlarang. Tetapi janganlah mendekati pohon itu sebab jika tidak kamu akan menjadi orang-orang yang dzalim (dzalimun), mereka yang meletakkan cahaya ditempat kegelapan (dzulma). Sebab kedzaliman (zulm) dalam penggunaan umum berarti meletakkan sesuatu ditempat yang salah, sementara secara harfiah berarti gagal dalam memenuhi hak dan kewajiban.
lalu keduanya digelincirkan oleh syaitan dari surga itu dan dikeluarkan dari Keadaan semula dan Kami berfirman: "Turunlah kamu! sebagian kamu menjadi musuh bagi yang lain, dan bagi kamu ada tempat kediaman di bumi, dan kesenangan hidup sampai waktu yang ditentukan." . (QS. Al-Baqoroh : 36)

Lalu keduanya digelincirkan oleh syaitan dari surga itu Kemudian setan mendorong mereka hingga tergelincir dari kedudukan mereka disurga menuju Jurang perangai dengan jalan merusak mereka dengan kenikmatan-kenikmatan jasmaniah dan menguasai mereka selamanya. Dan mengeluarkan mereka dari dari tempatnya, kebahagiaan dan istirahat.
Allah berfirman: "Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) di waktu aku menyuruhmu?" Menjawab iblis "Saya lebih baik daripadanya: Engkau ciptakan saya dari api sedang Dia Engkau ciptakan dari tanah". (QS. Al-A’raaf : 12)

Dalam ayat ini iblis yang dikaitkan dengan sifat api. indrawi diciptakan dari bagian-bagian ruh hewan yang paling halus, Ia merupakan benda yang paling panas didalam tubuh, panas menuntut kenaikan dan peninggian diri.
Setiap indra dari Dunia Dominion mengawasi ciri-ciri dari apa yang ada di bawahnya, tetapi bukan apa yang di atasnya. Ia mengawasi kesempurnaan-kesempurnaan dan ciri-ciri ruh hewan. Karena intuisi indrawi itu terselubung dari ciri-ciri ruh dan hati manusia, penyelubungan ini mengambil bentuk penyangkalannya serta menyebabkan penolakan serta pernyataan akan kebesarannya. Ia melanggar bidangnya sendiri dengan membuat penilaian-penilaian mengenai makna-makna yang dapat dipahami dan benda-benda yang terpisah. Ia tidak mau menerima penilaian akal. Ini mengambil bentuk dalam penolakannya untuk bersujud.
Allah berfirman: "Turunlah kamu dari surga itu; karena kamu sepatutnya menyombongkan diri di dalamnya, Maka keluarlah, Sesungguhnya kamu Termasuk orang-orang yang hina". (QS. Al-A’raaf : 13)

“tidak sepatutnya engkau menyombongkan diri disini.” Sebab brand kemuliaan disini berarti berlagak memiliki sifat-sifat diri yang sangat baik namun sesungguhnya tidak dimiliki. Kehadiran ruh yang seolah-olah dimiliki intuisi indrawi tidak akan dapat melampaui kedudukan akal. “maka pergilah” karena intuisi indrawi tidak pantas menerima kehadiran roh. Mereka lebih hebat. “sesungguhnya kamu termasuk kaum yang hina.” Salah satu indra jiwa yang tak terpisahkan dari arah yang rendah dan tetap berada dalam kerendahan karena terikat pada benda-benda badaniah.
Penjelasan al-Quran berlanjut dengan pengungkapan bagaimana Tuhan mengusir setan dan memberinya waktu hingga Hari Kebangkitan. Lalu Tuhan berfirman pada Adam, memerintahkannya untuk tinggal di Surga namun harus menghindari pohon itu.
Maka syaitan membisikkan pikiran jahat kepada keduanya untuk Menampakkan kepada keduanya apa yang tertutup dari mereka Yaitu auratnya dan syaitan berkata: "Tuhan kamu tidak melarangmu dan mendekati pohon ini, melainkan supaya kamu berdua tidak menjadi Malaikat atau tidak menjadi orang-orang yang kekal (dalam surga)". (QS. Al-A’raaf : 20)

“Supaya mereka membukakan kemaluannya yang tertutup”. Dengan kata lain, setan ingin menyatakan pada mereka melalui kecenderungan mereka pada tabiat alamiah apa yang telah disembunyikan dari mereka kenapa mereka dipisahkan dari benda-benda alamiah, kenikmatan-kenikmatan badaniah, ciri watak yang hina, tindakan-tindakan hewani, dan sifat-sifat pemangsa dan binatang buas. Manusia merasa malu untuk menunjukkan semua ini dan tidak mau mengungkapkannya. Kejantanan mendorong mereka untuk menyembunyikannya, sebab semua itu adalah hal-hal yang memalukan dalam pandangan akal, maka mereka mencela dan memandangnya rendah.
Dia berkata, “Tuhan kalian melarang kalian mendekati pohon ini, tidak lain supaya kalian tidak menjadi malaikat, atau menjadi orang-orang yang kekal.” Dengan kata lain, iblis membuat mereka memiliki intuisi indrawi yang menyatu dengan perangai badaniah dan seakan-akan materi dapat memberi mereka kenikmatan, persepsi, dan tindakan-tindakan para malaikat serta orang-orang yang kekal.
dan Dia (syaitan) bersumpah kepada keduanya. "Sesungguhnya saya adalah Termasuk orang yang memberi nasehat kepada kamu berdua",
Maka syaitan membujuk keduanya (untuk memakan buah itu) dengan tipu daya. tatkala keduanya telah merasai buah kayu itu, nampaklah bagi keduanya aurat-auratnya, dan mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun surga. kemudian Tuhan mereka menyeru mereka: "Bukankah aku telah melarang kamu berdua dari pohon kayu itu dan aku katakan kepadamu: "Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu berdua?" (QS. Al-A’raaf : 21-22)

Dan Dia bersumpah pada mereka, “sungguh, aku adalah penasehat yang tulus bagi kalian berdua.” Maka dia menyebabkan kejatuhan mereka. Dia membuat mereka jatuh pada kelekatannya dengan tabiat alamiah dan tinggal didalamnya. Melalui tipu daya, sebab dia mengerahkan tipu daya pada mereka dengan pakaian penasehat yang tulus, dan membuat mereka memiliki intuisi indrawi, yaitu bahwa kenikmatan-kenikmatan badaniah dan penguasaan atas umat manusia yang dianggap kekal. Dia memikat mereka dengan keuntungan-keuntungan badan dan nafsu-nafsu jiwa.
Dan ketika mereka mencicipi pohon itu, dibukakanlah kemaluan mereka maka mereka meraih dedaunan surga untuk menutupi diri mereka. Dengan kata lain, mereka mulai menutupi kutukan tabiat alamiah melalui tata cara yang baik dan adat-istiadat yang indah. Semua ini berasal dari pendapat-pendapat akal dan merupakan kesimpulan-kesimpulan dari akal praktis. Mereka berusaha menyembunyikan kutukan-kutukan dengan muslihat-muslihat praktis.
Dan Tuhan memanggil mereka,“bukankah kalian telah Ku larang untuk mendekati pohon itu?” bentuk larangan itu telah ditetapkan secara tegas didalam akal yaitu kecenderungan untuk melepaskan diri (dari tabiat alamiah), pemahaman akan hal-hal yang dapat dipahami, dan penghindaran benda-benda materi dan inderawi. Dan Dia berfirman : sesungguhnya setan itu musuhmu yang nyata. yang di ilhamkan Tuhan pada akal, ia harus menentang aturan-aturan intuisi indrawi, menolak persepsi-persepsinya, dan melakukan tindakan yang bertentangan dengannya. “panggilan Tuhan pada mereka” dalam hal ini adalah bahwa mereka diberitahu tentang makna ini melalui ilham.
keduanya berkata: "Ya Tuhan Kami, Kami telah Menganiaya diri Kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni Kami dan memberi rahmat kepada Kami, niscaya pastilah Kami Termasuk orang-orang yang merugi. (QS. Al-A’raaf : 23)

Mereka berkata, “Tuhan, kami telah menganiaya diri kami sendiri.” Ini karena didalam tabiat alamiah, jiwa rasional menjadi sadar akan ketidaksempurnaannya, Ia kini dihasut untuk mencari kesempurnaan dengan cara menjadi terpisah. “dan jika Engkau tidak mengampuni kami.” Dengan jalan memberi kami pengetahuan sejati, “kami akan berada diantara orang-orang yang sesat.” Yaitu mereka yang menyia-nyiakan kesiapan awal mereka, yaitu kebahagiaan dan penghidupan, dengan menggunakannya didunia pembinasaan. Dengan cara itu mereka tidak akan mampu mencapai kesempurnaan dengan menjadi terpisah sebab mereka terus bergantung pada ketidak sempurnaan Tabiat Alamiah.
Tuhan kemudian menurunkan Adam dan Hawa kedunia ini. Selanjutnya al-Quran menyeru pada anak-anak Adam, dengan mengatakan pada mereka kesimpulan-kesimpulan apa yang harus mereka tarik dari kisah tersebut. Tuhan telah mengirimkan “pakaian” untuk menutupi “kemaluan” mereka yang terbuka ketika Adam dan Hawa makan buah itu. Kemaluan mereka itu adalah ciri-ciri watak buruk yang tumbuh dalam jiwa rasional ketika ia menjadi lekat dengan dunia ini. Pakaian itu adalah hukum wahyu, syari’at, yang meluruskan ciri-ciri watak dan membawa jiwa menuju keselarasan dengan akal. Melalui tuntunan syari’at akal mampu memisahkan dirinya dari pembenaman dalam kegelapan tabiat alamiah, dan jiwa selanjutnya dapat mengikutinya. Akal merupakan dimensi mikrokosmos yang sejajar dengan para nabi dalam makrokosmos. Maka ciri yang melekat padanya adalah cahaya penuntun. Tapi ia dapat dibawa dari potensialitas menuju aktualitas penuh hanya jika seseorang mengikuti para nabi, menerima hukum wahyu, dan memiliki sikap pasrah seorang hamba.
Hai anak Adam, Sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutup auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. dan pakaian takwa Itulah yang paling baik. yang demikian itu adalah sebahagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, Mudah-mudahan mereka selalu ingat. (QS. Al-A’raaf : 26)

Alloh menurunkan syariat yang dapat menyembunyikan sifat-sifat buruk serta tindakan-tindakan yang tak senonoh, menghiasi manusia dengan ciri-ciri watak yang baik serta tindakan-tindakan yang baik. Sifat yang baik itu diantaranya sifat kesalehan dan terjaga dari sifat jiwa, oleh sebab itu syari’at merupakan akar dan landasan agama yang dapat menja manusia tetap dalam keadaan baik.
Menghindari sifat-sifat jiwa tidak akan dapat dicapai atau dimungkinkan kecuali jika pengungkapan diri dari sifat-sifat Tuhan menjadi terwujud. Kaum sufi menyinggung masalah ini dengan kata-kata mereka, “Tuhan tidak akan mengontrol apa pun dari hamba itu tanpa menggantikannya dengan sesuatu yang lebih baik dari jenisnya sendiri.” Barangkali ketika pengungkapan diri itu menjadi terwujud, manusia akan ingat, pakaian aslinya yang bercahaya, atau kedekatan Tuhan, dimana ia pernah tinggal melalui tuntunan cahaya dari sifat-sifat ilahi.
Dalam bagian lain dari ulasan itu, Kasyani mengingatkan intuisi indrawi pada sifat maskulin yang negatif dari jiwa. Dia menjelaskan Kesulitan akan membuat jiwa sadar terhadap keterbatasan dan kesempitan segala sesuatu yang rendah dan menyebabkannya mengalihkan aspirasinya ke atas. Dan Sebaliknya, kenikmatan akan menuntun pada kepuasan diri dan kesombongan. berbagai jenis masalah, seperti kesulitan, tekanan, dan macam-macam kesengsaraan, akan menghancurkan ketamakan jiwa, melembutkan hati dengan melepas hijab-hijab sifat jiwa negatif, menghaluskan kepadatan-kepadatan tabiat alamiah, dan menghilangkan bungkus-bungkus kebimbangan. Maka dalam keadaan sulit hati orang dibelokkan secara alamiah kepada asal-usul mereka, sebab disini mereka kembali kepada tuntutan-tuntutan fitrah pada kecemerlangan dan kapasitas bawaan mereka, dan cendrung pada kenaikan hilangnya penghalang. Menurut sama’ani rahasia cinta Adam adalah saat melihat dirinya sendiri tidak ada apa-apanya, pengenalan inilah yang disebut leh orang sufi kemiskinan.
Selama jiwa menguasai hati, intuisi indrawi akan menguasai akal. Maka setan pun berkuasa, sebab indra akal menjadi tawanan dalam belenggu intuisi indrawi, diperintah olehnya, dimanfaatkan untuk mencapai tujuannya dan dipekerjakan untuk meraih harapan-harapannya. Harapan-harapan ini mendapatkan kenikmatan dari jiwa, melengkapinya dengan sarana dunia kotoran, dan menguatkan sifat-sifatnya dengan sarana dari dunia tabiat. Setan mempersiapkan materi kepuasan dengan sarana pemikiran reflektif. Maka hati menjadi terselubung oleh kerak dan tidak mampu menerima semua sifat Tuhan. Itulah makna dari firman-Nya, mereka membuat makar untuk menentang ayat-ayat kami. Katakanlah, “balasan makar Tuhan itu lebih cepat lagi.” Sebab Tuhan menyembunyikan kekejaman sejati didalam kelembutan lahiriah. Sementara itu Dia mempersiapkan hukuman “api” yaitu kerugian, “ular” yaitu kondisi-kondisi dari sifat-sifat yang hina, “kalajengking-kalajengking hitam” dan “pakaian dari getah” didalam belas kasih yang nyata.


BAB III
KESIMPULAN

Dalam kondisi normal, jiwa siap menerima cahaya yang datang dari ruh, melalui penerimaan ini, jiwa menjadi bercahaya dan berubah menjadi suatu zat ruhani dan saat itu jiwa naik dari dunia kegelapan menuju dunia cahaya. Selama jiwa bisa menerima cahaya ruh, ia sepenuhnya positif. Namun selama ia jauh dari pusat kosmos yang bercahaya, ia gelap dan bodoh. tingkatan jiwa seseorang dapat naik maupun turun dan itu tergantung pada banyak sedikitnya cahaya ilahiyah yang menyinarinya lewat ruh dan nasihat dari akal.
Sama’ani menjelaskan Adam diciptakan dengan memperhatikan dua kategori dasar dari nama-nama Alloh yang Mahabaik dan penyayang, dan ketika adam masih berada didalam surga ia belum seutunya merealisasikan makna semua nama Alloh yang Alloh ajarkan kepadanya, dia hanya mengenal nama keindahan dan kasih sayang dan untuk mengenal nama kekuasaan dan amarah maka itu dapat dipahami saat Adam diturunkan ke Bumi. Selain itu Penafsiran Kasyani atas mitos Adam dan Hawa sangat menarik. Dia membahas mikrokosmik Setan, iblis, dan hubungannya dengan jiwa. Dia menyamakan iblis dengan indra dari jiwa yang dikenal sebagai wahm, atau disebut juga intuisi inderawi. Manusia memiliki indra ini, demikian pula hewan. Adam itu disejajarkan dengan hati, Hawa dengan jiwa, dan Iblis dengan intuisi indrawi. Selama jiwa menguasai hati, intuisi indrawi akan menguasai akal. Maka setan pun berkuasa. Dan sebaliknya selama hati yang berkuasa maka menjadi terkendali. Kesulitan akan membuat jiwa sadar terhadap keterbatasan, Alloh menurunkan syariat merupakan akar dan landasan agama yang dapat menjaga manusia tetap dalam keadaan baik.


DAFTAR PUSTAKA

Al-Ghazali. 2000. Keajaiban-keajaiban Hati, ter. Muhammad Al-Baqir. Bandung : Karisma.
Chittick, Wiliam C. 2002. Tasawuf di Mata Kaum Sufi. Ter. Zainul Am. Bandung : Mizan.
Frager, Robert. 2002. Hati, diri, dan jiwa psikologi sufi untuk transformasi, ter. Hasmiyah Rauf. Jakarta: PT. Serambi Ilmu Semesta.
Hawwa, Sa’id. 1998. Jalan Ruhani: Bimbingan Tasawuf Untuk Para Aktivis Islam. Ter. Khairul Rafie’ M. Bandung : Mizan.
Ibrahim, Rizal. 2003. Menghadirkan Hati : Panduan Menggapai Cinta Ilahi. Yogyakarta : Pustaka Sufi.
Murata, Sachiko. 1996. The Tao of Islam, ter. Rahmani Astuti. Bandung : Mizan.
Mustofa, Agus. 2005. Menyelam ke samudra jiwa dan ruh. Surabaya: Padma Press.